Laporan Survey Tinjau – Pt. Halmahera Jaya Mining

IUP PT. HALMAHERA JAYA MINING
DI KEC.GALELA, HALMAHERA UTARA, PROPINSI MALUKU UTARA

Arif Zardi Dahlius, CPI IAGI
July 2016

LOKASI DAN STATUS IUP

IUPPT. Halmahera Jaya Mining terletak di wilayah Desa Roko, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Luas wilayah izin IUP eksplorasi sekitar 1500 hektar yang berlaku sampai dengan November 2016. Saat peninjauan, status IUP sedang dalam proses peningkatan menjadi IUP operasi dan produksi, dimana kajian AMDAL dan Studi Kelayakan telah dilaksanakan.

 

Gambar 1 menunjukkan lokasi IUP di bagian utara Pulau Halmahera. Desa Roko yang terletak di bagian selatan IUP dapat dicapai dengan kendaraan roda 4 dari Tobelo (ibukota Kabupaten) selama 1,5 jam. Pemukiman dan perkebunan rakyat Desa Roko termasuk ke dalam area IUP bagian selatan. Desa Roko berada pada endapan teras Sungai besar yang mengalir dari bagian barat daerah IUP.

Citra DEM (elevasi permukaan tanah) di daerah penyelidikan menunjukkan wilayah IUP bagian selatan yang terpotong oleh Sungai besar di utara Desa Roko, yang mengalir dari barat ke timur di bagian selatan daerah IUP. Di pegunungan bagian utara IUP, relatif sulit dijangkau di mana akses menuju lokasi tersebut sangat terbatas melewati jalan setapak yang sebagian besar telah tertutup.

 

GEOLOGI REGIONAL

Sebagian besar daerah IUP PT.HJM terletak pada Formasi Bacan, yaitu formasi yang tersusun atas breksi dan lava andesitik dan basaltik berumur Oligosen dengan sebagian kecil daerah (yang terletak di bagian barat Desa Roko) tersusun atas formasi lava andesitik dan lava yang lebih muda dan aluvium sebagai endapan sungai Tosomolo.

Sesar berarah NNW dan NE memotong formasi tersebut, dan juga menjadi kontak litologi di daerah IUP.Di bagian selatan IUP sendiri terutama aluvial sungai besar tersebut di atas menutupi singkapan, sehingga conto batuan dari singkapan sulit didapatkan.

PENYELIDIKAN TERDAHULU

Daerah IUP sendiri telah dilakukan pekerjaan eksplorasi sejak jaman Belanda, namun tidak ada data koordinat yang bisa digunakan untuk menentukan posisi tepat dari data-data jaman Belanda ini.  Pemerintah Indonesia (Direktorat Energi dan Mineral) juga telah melakukan survey pendahuluan di daerah ini, dimana telah mendapatkan conto dengan anomali emas dengan kisaran 0.05 – 2.7 gr/ton, dan sampai dengan 5 gr/ton Ag, dari singkapan breksi hidrotermal.

Sejak dekade 1990-an, PT. Newcrest juga melakukan eksplorasi regional di daerah ini, yang termasuk dalam daerah kontrak karya sebelumnya. Tidak diketahui jenis pekerjaan apa saja yang dilakukan di daerah ini. Selanjutnya setelah penciutan wilayah KK PT.NHM, pekerjaan penyelidikan dilakukan oleh beberapa perusahaan sebagai berikut:

  1. Pada tahun 2007, survey independen PT. Aneka Service Mining mengambil conto batuan dengan hasil assay ditemukan anomali emas > 1 gr/ton sebanyak 14 conto dari seluruh 18 conto batuan. AMS menyimpulkan bahwa daerah Roko berpotensi tambang emas.
  2. Pada tahun 2009, tim geologi dari China juga melakukan survey tinjau dan mengambil beberapa conto batuan dari tambang rakyat di daerah IUP. Tim ini menyimpulkan bahwa potensi emas terletak di bagian barat IUP. Titik-titik pengambilan conto tidak dapat diverifikasi, namun tim melaporkan adanya anomali emas dan perak di tambang rakyat dekat Desa Roko, dan di utara Desa / di bagian utara sungai.
  3. Sinomine, perusahaan dari Cina melakukan trenching dan test pit di daerah IUP, dan pengeboran sedalam 250 meter. Titik-titik pengambilan conto sebagian besar terdapat di sekitar Desa Roko. Validasi dan verifikasi pekerjaan ini dilakukan oleh Dragon Mining Consulting Limited (DMCL), dengan melakukan tambahan titik trenching dan test pit, termasuk uji parit pada lapisan aluvial untuk menguji potensi emas aluvial di daerah ini. Bagian berikut akan membahas hasil penyelidikan DMCL tersebut.

 

HASIL EKSPLORASI OLEH DMCL

Penyelidikan dan verifikasi data eksplorasi sebelumnya yang dilakukan oleh DMCL mencakup trenching, pengambilan conto dari terowongan dangkal milik masyarakat, dan pembuatan test pit. Namun test pit ini dilakukan untuk menyelidiki potensi emas aluvial pada sedimen sungai Tiabo di sekitar Desa Roko. DMCL melakukan pekerjaan di lapangan ini pada akhir tahun 2013.

Hasil penyelidikan menemukan anomali emas kadar rendah (0.1-0.22 gr/ton Au) pada sebagian besar conto yang diambil dari permukaan (trenching dangkal), dan anomali emas dengan sampai dengan 8 gr/ton dari conto batuan dari terowongan masyarakat. Gambar 3 di bawah ini menunjukkan hasil penyelidikan DMCL yaitu anomali emas pada conto yang didapatkan dari trenching dan tambang masyarakat. Beberapa conto dari pemboran inti oleh Sinomine juga diambil ulang, namun laporan tidak menyebutkan koordinat titik bor. Conto-conto pemboran inti disimpan di kantor perwakilan PT HJM di Tobelo, namun ditempatkan di halaman terbuka, tidak terawat dengan baik, sehingga tidak memungkinkan untuk ditinjau ulang. Namun dari pemboran tersebut, diketahui dominan batuan yang tampak merupakan andesit.

DMCL menyimpulkan bahwa keberadaan mineralisasi emas dan perak di daerah ini diduga merupakan endapan epithermal Au-Ag dengan sedikit kehadiran logam dasar seperti Pb, dan Zn. Laporan DMCL juga menyinggung kemungkinan adanya mineralisasi skarn di lokasi bagian utara daerah IUP, berdasarkan keberadaan magnetit pada lapisan sedimen gampingan di beberapa singkapan.

TINJAUAN LAPANGAN 2016

Tinjauan singkat lapangan dilakukan dalam rangka evaluasi penyelidikan terdahulu dan juga untuk menyiapkan program / metoda eksplorasi lebih lanjut yang sesuai dengan karakter endapan mineral. Gambar 5 di bawah ini menunjukkan 3 lokasi conto yang diambil berikut kadar Au hasil assay lab (hasil assay terlampir)

 

Pada tahap awal pekerjaan field visit dilakukan penelusuran untuk mengamati kondisi geologi di bagian selatan (HJM 01 – HJM 03). Hasil pengamatan di lapangan, ditemukan indikasi mineralisasi berupa 2 (dua) tubuh bijih (ore body) yang diduga sebagai urat kuarsa (quartz vein) yang mengandung mineral logam.

Urat kuarsa pertama terdapat di bagian selatan IUP PT HJM. Indikasi awal ditemukan di bagian selatan lokasi. Urat tersebut ditemukan di lobang galian masyarakat (HJM-01). Ketebalan urat belum diketahui dengan pasti dan didapatkan pada kedalaman 10-15 meter arah jurus hampir timur – utara (N 30oE) dan kemiringannnya belum bisa di identifikasikan. Pada singkapan batuan ditemukan mineral-mineral-mineral sulfida, seperti pyrit, sfalerit, galena, dan sebagai masa dasar ditemukan mineral kuarsa dan feldspar. Diambil sebanyak 2 (contoh) contoh batuan untuk di analisa. Pada conto batuan yang diambil diberi tanda HJM 01 (a) dan HJM 01 (b). Hasil analisa terhadap contoh batuan, diperoleh hasil pada salah satu conto sebesar 14,3 g/ton emas. Kenampakan batuannya adalah banyak mengandung mineral sulfida seperti pyrit, galena, sfalerit dan sedikit arsenopyrit.

 

Conto batuan lain berasal dari conto batuan HJM-02 (lihat gambar 5). Conto tersebut diambil  lobangtambang masyarakat dengan kedalaman antara 13-15 meter. Penelusuran lebih lanjut di sekitar lokasi conto batuan, terdapat beberapa lobang horizontal yang diduga, pernah dipakai untuk beraktivitas dalam lubang tersebut.

 

Pengamatan terhadap singkapan batuan yang terdapat lorong-lorong bekas tambang, dapat disebutkan bahwa lorong yang dibuat adalah mengikuti jalur mineralisasi. Kenampakan batuan pada umumnya menunjukkan indikasi mineral-mineral sulfide, seperti pyrit, sfalerit, arsenopyrit dan galena.

 

Indikasi mineralisasi kedua, yaitu berupa urat kuarsa ditemukan di timur sungai (timur HJM 01). Penelusuran terhadap singkapan batuan menemukan singkapan mineralisasibatuan  yang kaya logam emas (Au). Dari contoh yang diambil menunjukkan kadar emas 1,25 g/ton.

 

Conto batuan lainnya tidak dilakukan analisis kimia karena tidak ditemukannya mineralisasi pada singkapan. Hasil assay dari empat conto batuan yang diambil dari “lobang” tambang masyarakat pada kedalaman 10-15 meter, menunjukkan anomali emas yang significant  berkisar antara 0.49 – 14.3 gr/ton pada 3 conto yang diambil dari 2 lokasi HJM 01 dan HJM-02. Sedangkan kadar logam dasar agak tinggi didapatkan dari conto yang diambil di lokasi HJM 01. Sedangkan hasil assay dari lokasi HJM 03 menunjukkan kadar Au 1.25 gr ton, namun kadar base metal yang sangat rendah. Diperkirakan mineralisasi di HJM -02 dan HJM-03 tidak berhubungan / sistem yang berbeda.

 

Pengamatan pada singkapan di anak sungai besar terlihat endapan breksi volkanik dan konglomerat, tidak terubah, diperkirakan pasca mineralisasi. Dari conto yang didapatkan dari terowongan galian masyarakat di HJM 01 dan 01 B, ditemukan mineralisasi dominan pyrit dan sphalerite pada urat kuarsa/breksi urat, batuan asal telah terubah kuat sehingga tidak diketahui litologi pra-mineralisasi.

 

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan data eksplorasi sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa eksplorasi di daerah HJM ini merupakan tahap eksplorasi penyelidikan pendahuluan, belum merupakan eksplorasi lanjut / advance dan rinci, sehingga perlu dilakukan segera pekerjaan eksplorasi lanjutan yang sesuai dan efisien agar bentuk dan volume tubuh bijih dapat ditentukan sebelum penambangan dilakukan.

Survey tinjau singkat yang dilakukan di daerah ini untuk menegaskan keberadaan emas dan logam dasar (Pb, Zn), dari salah satu conto yang diambil dari galian di dekat Desa Roko. Diperkirakan jalur mineralisasi ini menerus ke utara sampai dengan1200 mt utara lokasi HJM-02, namun diperkirakan sebagian besar telah tererosi pada lembah sungai besar diantara lokasi HJM-01 dan HJM-02. Namun demikian, jalur ini diperkirakan menerus sampai utara dengan panjang > 1 km.

Survey singkat DMCL di bagian utara menyebutkan keberadaan mineralisasi magnetit (skarn Fe) pada singkapan sedimen gampingan. Hal ini perlu dipetakan lebih lanjut sampai bagian utara – barat daerah IUP. Namun demikian penyelidikan keberadaan skarn ini sebaiknya dilakukan setelah eksplorasi di bagian selatan IUP telah mulai dibor.

 

Kesimpulan :

  1. Berdasarkan data awal yang disediakan oleh PT HJM dan analisis serta hasil tinjau lapangan kami menyimpulkan bahwa property ini (IUP PT HJM) layak untuk ditindaklanjuti.
  2. Dari hasil analisa geokimia, dimana terdapat anomaly emas dan perak yang tinggi, maka tipe mineralisasi, control geologi dan batuan sammping dari mineralisasi ini harus diketahui dengan pasti. Jalur mineralisasi diperkirakan masih terbuka ke-arah utara dari IUP PT HJM.
  3. Target dari eksplorasi lanjutan ini adalah untuk memastikan moderate – high grade epithermal style vein hosted Au-Ag mineralisation

Rekomendasi:

  1. Pemetaan geologi rinci di seluruh daerah IUP, terutama di bagian utara Desa Roko, bagian utara sungai. Pemetaan dapat dilakukan juga dengan melakukan trenching yang memotong jalur mineralisasi yang telah disebutkan, maupun memotong jalur yang tidak terlihat dari survey sebelumnya.
  2. Survey geokimia rinci dengan metoda grid sampling interval 25 meter pada daerah di antara HJM -02 dan HJM -03, dan metoda ridge and spur pada punggungan di sekitar jalur mineralisasi NNE.
  3. Survey geofisika IP dengan lintasan yang memotong tegak lurus jalur mineralisasi, dengan jarak antar lintasan 100 meter untuk mendeliniasi keberadaan mineralisasi sulfida pada daerah IUP. Survey ini sebaiknya difokuskan terlebih dahulu pada daerah jalur mineralisasi yang diketahui
  4. Pemboran inti yang dipandu oleh IP section dengan interval 100 meter. Bor eksplorasi ini untuk memastikan keberadaan jalur mineralisasi di bawah permukaan. Pengeboran inti lebih lanjut dilakukan mengisi interval data yang lebih dekat (sampai dengan minimum 10 meter)